KETUHANAN YANG MAHA ESA; “Sketsa Tinjauan Yuridis Konstitusional Terhadap Ajaran Non-Tauhid”

Artikel ini kami awali dengan bunyi Pasal 29 (1):
Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.

Penjelasan
Keberadaan Tuhan tidaklah disebabkan oleh keberadaan daripada makhluk hidup dan siapapun, sedangkan sebaliknya keberadaan daripada makhluk dan siapapun justru disebabkan oleh adanya kehendak Tuhan. Karena itu Tuhan adalah Prisma Causa, yaitu sebagai penyebab pertama dan utama atas timbulnya sebab-sebab yang lain.
Dengan demikian Ketuhanan Yang Maha Esa mengandung makna adanya keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa Tunggal, yang menciptakan alam semesta beserta isinya. Dan diantara makhluk ciptakan Tuhan Yang Maha Esa yang berkaitan dengan sila ini ialah manusia.

Sebagai Maha Pencipta, kekuasaan Tuhan tidaklah terbatas, sedangkan selainNya adalah terbatas.

Negara Indonesia didirikan atas landasan moral luhur, yaitu berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa yang sebagai konsekuensinya, maka negara menjamin kepada warga negara dan penduduknya untuk memeluk dan untuk beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya, seperti pengertiannya terkandung dalam:
a. Pasal 29 UUD 1945
(1) Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa
(2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadah menurut agamanya dan kepercayaannya.

Oleh karena itu di dalam negara Indonesia tidak boleh ada pertentangan dalam hal Ketuhanan Yang Maha Esa,…(dst).

Kesimpulan
1. Indonesia adalah Negara yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (Tunggal).
2. Tuhan adalah “Prisma Causa” artinya Tuhan itu Tunggal, Tuhan adalah Pencipta dan Tuhan TIDAK SAMA dengan ciptaan-Nya (manusia atau mahluk apapun).
3. Kekuasan Tuhan tanpa batas, sedangkan kekuasaan mahluk terbatas.
4. Negara menjamin hak-hak Warga Negara untuk memilih agamanya dan beribadah sesuai dengan agama dan keyakinannya tersebut.

Disini saya hanya akan fokus kepada tema Ketuhanan saja. Saya tidak akan mengupas masalah agama. Kenapa? Karena Ketuhanan akan berkorelasi dengan agama, agama sebagai cara hidup untuk mengenal Tuhan yang benar.

Lalu apa sih definisi TUHAN menurut konstitusi?
Jawabannya ya itu tadi,
– Tuhan itu adalah “Prisma Causa”, Prisma Causa mengandung pengertian Tuhan sebagai penyebab pertama dan utama atas timbulnya sebab-sebab yang lain.
– “Prisma Causa” itu adalah Tuhan Yang Maha Esa (Tunggal), yang menciptakan alam semesta beserta isinya.
– Tuhan Yang Maha Esa adalah Pencipta manusia.
– Sebagai Maha Pencipta, kekuasaan Tuhan tidaklah terbatas, sedangkan selainNya adalah terbatas.

Pernyataan ini sejalan dengan ajaran Tauhid yang terkandung di dalam ayat-ayat Al-Qur‘an.

Berikut ini uraiannya:
1. “Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang” (Al-Baqarah: 163)
2. “Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan Katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada Kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan Kami dan Tuhanmu adalah satu; dan Kami hanya kepada-Nya berserah diri” (Al Ankabut: 46)
3. 1).
Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa
2). Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu
3). Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan
4). Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia (Al-Ikhlas: 1-4)

Sampai disini tidak ada masalah, baik dalil Qur’an maupun isi Undang-undang keduanya seiring sejalan.

Broken chain

Lalu bagaimana dengan nasib ajaran Non-Tauhid seperti
Trinitas,
Trimurti atau ajaran lainnya??
Apakah mereka boleh tinggal di Indonesia??

Jawabannya, tidak ada masalah, agama dan kepercayaan mereka tetap dijamin oleh Undang-undang walaupun pemahaman mereka tentang Ketuhanan adalah TIDAK BENAR menurut Undang-undang (konstitusi) ini. Kebolehan tersebut diatur dalam Pasal-pasal berikut ini:
– Pasal 28E ayat (1) “Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya,…(dst)”
– Pasal 29 ayat (2): “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”

Ibarat penumpang pesawat komersil, di negeri ini kaum Muslimin adalah penumpang kelas VVIP, sementara umat lain sudah pasti di bawah VVIP.

Keberadaan umat Non-Tauhid di negeri ini adalah berkat kebesaran hati dan jiwa kaum Muslimin yang notabene adalah mayoritas pejuang, pahlawan dan founding father di negeri ini.

Keberadaan Non-Muslim di negeri ini adalah bukti konkrit sikap toleransi yang besar dari kaum Muslimin setanah air.

Maka hendaknya umat Non-Muslim senantiasa mengikuti jejak langkah kaum Muslimin sebagai umat mayoritas di negeri ini yang telah memberikan teladan dengan sangat baik dalam konteks toleransi. Dan hendaknya mereka tidak melakukan gerakan-gerakan pemurtadan, misionarisme ataupun sejenisnya yang jelas-jelas dapat memecah kerukunan hidup antar umat beragama di negeri ini.

Penutup
“Katakanlah: “Hai orang-orang kafir,aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku” (QS. Al Kafirun: 1-6)

“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya)” (QS. Ash-Shuraa:13)

“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” (QS. Al-Maa-idah: 3)

Read more
· Toleransi Beragama
· Suryadharma Ali; “Toleransi Beragama di Indonesia Terbaik Sedunia”
· Hakikat Pemurta dan Agama Islam Di Indonesia
· Pemurtadan terhadap
Muslim Dilakukan Secara Sistematis

Iklan