MENJAWAB SITUS isadanislam.com Edisi “Siapakah Isa Al-Masih?”

menjawab situs
isadanislam logo

Siapakah Isa Al-Masih?

MATERI
Siapakah Isa Al-Masih itu? Al-Quran dan Alkitab berbicara banyak mengenai sosok Isa Al-Masih.

Walaupun kedua kitab ini tidak sepenuhnya setuju dengan yang lain, namun banyak hal yang sama. Keduanya setuju bahwa Isa Al-Masih adalah Firman Allah, suci dan tak berdosa, dan lahir dari perawan.

Marilah simak video di bawah ini.
●Artikel Video

Focus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca
Staf IDI berharap komentar yang diberikan hanya menanggapi salah satu pertanyaan berikut:
1. Bagaimana tanggapan saudara mengenai cerita dalam video di atas?
2. Menurut saudara, apakah yang membuat tokoh dalam cerita tersebut akhirnya memutuskan untuk menjadi pengikut Isa Al-Masih?
3. Dari semua ayat-ayat yang dijelaskan dalam video tersebut, menurut saudara siapakah Isa Al-Masih itu sebenarnya?

JAWABAN

Bagian #1

1. Hukum tentang murtad dalam Islam
Allah Subhanahuwata’ala berfirman: “Dan sungguh Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan pernah ridha kepadamu sampai kamu mau mengikuti agama mereka. Katakanlah: Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar), dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu” (QS. Al-Baqarah:120)

“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS Al Baqarah: 217)

Jadi jelas dasar hukumnya bahwa balasan bagi orang-orang Muslim yang murtad adalah NERAKA yang kekal. (Naudzubillah!)

(Kecuali ia bertaubat…)

Bahkan orang-orang yang murtad dalam bab hukum keduniaan, mereka boleh dibunuh tetapi sesuai dengan ketentuan hukum syariat.

Orang yang murtad, jika bertaubat, apakah taubatnya diterima?

Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu dijelaskan bahwa orang yang murtad terkena hukum dunia dan akherat.

Adapun rinciannya sebagai berikut :
Pertama, hukum Akherat.
Untuk hukum di akherat ini pada dasarnya Allah Subhanahuwata’ala akan menerima setiap hamba-Nya yang bertaubat dengan sungguh-sungguh, ini sesuai dengan firman-Nya:
“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi, sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu.” (QS. Al Anfal:38)

Hal ini dikuatkan dengan hadits Amru bin Ash, bahwasanya Rasulullah Salallahu Alaihi Wasallam bersabda:
“Apakah kamu tidak tahu bahwa Islam telah menghapuskan dosa yang telah terdahulu, dan bahwa hijrah juga menghapuskan dosa yang terdahulu, dan haji juga menghapuskan dosa yang terdahulu.” (HR. Muslim)

Ayat dan hadist di atas menjelaskan bahwa orang-orang kafir asli yang bertaubat dan masuk Islam, maka Allah akan menerima taubat mereka, dan seluruh dosa-dosanya akan diampuni oleh Allah Subhanahuwata’ala.

Mereka tidak diwajibkan menggantikan kewajiban yang mereka tinggalkan selama ini, seperti sholat dan puasa.

Adapun orang yang murtad, jika bertaubat, maka taubatnya diterima dan dia harus menggantikan ibadah-ibadah yang dia tinggalkan selama ini, seperti sholat dan puasa. Imam Abu Hanifah dan Imam Malik mengatakan jika dia taubat, maka dia harus haji kembali seakan-akan dia baru masuk Islam.

Adapun Imam Syafi’I berpendapat bahwa jika dia bertaubat tidak ada kewajiban mengulangi hajinya kembali.

Diantara dalil yang menunjukkan diterimanya taubat orang yang murtad adalah firman Allah:
“Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa Rasul itu (Muhammad) benar-benar rasul, dan keterangan-keteranganpun telah datang kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim. Mereka itu, balasannya ialah: bahwasanya la’nat Allah ditimpakan kepada mereka, (demikian pula) la’nat para malaikat dan manusia seluruhnya, mereka kekal di dalamnya, tidak diringankan siksa dari mereka, dan tidak (pula) mereka diberi tangguh, kecuali orang-orang yang taubat, sesudah (kafir) itu dan mengadakan perbaikan. Karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran:86-89)

Tetapi bagi orang yang “mempermainkan” agama, dia beriman lalu murtad lalu beriman lalu murtad lagi kemudian mati maka dia termasuk orang-orang yang celaka.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman kemudian kafir, kemudian beriman (pula), kamudian kafir lagi, kemudian bertambah kekafirannya, maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka, dan tidak (pula) menunjuki mereka kepada jalan yang lurus.” (QS. Ali Imran:137)

“Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan : “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang.” Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.” (QS. An-Nisa’:18)

Maka untuk orang-orang yang murtad, admin mengajak anda, “Segeralah bertaubat selagi Allah masih memberi kesempatan, selagi ajal belum datang.

Kedua, hukum di dunia.
Untuk hukum di dunia para ulama berbeda pendapat di dalam menentukan status hukum orang murtad yang sudah bertaubat. Tetapi di dalam Islam perbedaan adalah rahmat, bukan untuk perpecahan.

Pendapat kesatu, “Jika seorang yang beriman kemudian murtad, dan kembali kepada Islam kemudian murtad kembali dan hal itu berulang berkali-kali, maka taubatnya tidak diterima oleh pemerintahan Islam, dan dia terkena hukuman mati”.

Pendapat Kedua, “Jika seorang yang beriman kemudian murtad dan hal itu berulang-ulang terus, maka taubatnya tetap diterima oleh pemerintahan Islam dan dia dianggap Muslim lagi dan boleh hidup bersama-sama orang-orang Islam yang lain, serta berlaku hukum-hukum Islam terhadapnya”.

Ini adalah pendapat mayoritas ulama, yaitu pendapat Hanafiyah, masyhur dari Malikiyah, Syafi’iyah dan salah satu pendapat imam Ahmad. (lihat Tabyin al Haqaiq 3/284, Tuhfatul Muhtaj: 9/96, Kasya’qina’:6/177-178)

Dalam masalah ini, Ibnu Taimiyah membagi Riddah menjadi dua, yaitu Riddah Mujaradah (murtad ringan), kalau dia bertaubat, maka hukuman mati menjadi gugur darinya. Yang kedua adalah Riddah Mugholladhah (murtad berat), dia tetap dihukum mati walaupun sudah bertaubat (Shorim Maslul:3/696)

Berkata Ibnu Qudamah di dalam al Mughni (12/271): “Kesimpulannya, bahwa perbedaan para ulama hanyalah di seputar diterimanya taubat orang yang murtad secara lahir di dunia ini, begitu juga gugurnya hukuman mati dan berlakunya hukum-hukum Islam baginya. Adapun diterimanya taubatnya oleh Allah secara batin, dan diampuninya orang yang bertaubat secara lahir dan batin, maka para ulama tidak berselisih pendapat dalam masalah-masalah tersebut”.

2. Sebab-sebab terjadinya Riddah/Murtad:
(1) Kebodohan
Kebodohan menjadi penyebab utama adanya gelombang pemurtadan, karena mereka tidak dibentengi dengan ilmu. Oleh karena itu salah satu cara yang efektif untuk mengatasi pemurtadan adalah dengan menyebarkan aqidah dan ilmu yag benar di kalangan masyarakat.

Syekh al-Bakri ad-Dimyathi (1310 H) berkata: “Ketahuilah bahwa banyak orang-orang awam yang mengucapkan kata-kata kufur tanpa mereka sadari, bahwa sebenarnya hal itu adalah bentuk kekufuran. Maka wajib atas bagi orang yang berilmu untuk menjelaskan kepada mereka mereka hal-hal yang menyebabkan kekafiran tersebut, supaya mereka mengetahuinya, kemudian bisa menghindarinya. Dengan demikian maka amalan mereka tidak menjadi sia-sia, dan tidak kekal di dalam neraka (bersama orang-orang kafir) dalam siksaan besar dan adzab yang sangat pedih. Sesungguhnya mengenal masalah-masalah kufur itu adalah perkara yang sangat penting, karena seorang yang tidak mengetahui keburukan maka sadar atau tidak, ia pasti akan terjatuh di dalamnya. Dan sungguh setiap keburukan itu sebab utamanya adalah kebodohan dan setiap kebaikan itu sebab utamanya adalah ilmu, maka ilmu adalah petunjuk yang sangat nyata terhadap segala kebaikan, dan kebodohan adalah seburuk-buruknya teman (untuk kita hindari)”. ( I’anah ath-Thalibin: 4/133)

(2) Kemiskinan
Pemurtadan seringkali terjadi pada daerah-daerah miskin dan terkena bencana. Banyak kaum Muslimin yang mengorbankan keyakinan mereka hanya untuk sesuap nasi dan sebungkus mie instant.

(3) Tidak adanya pemerintahan Islam
Hilangnya pemerintahan Islam yang menegakkan syariat Allah membuat musuh-musuh Islam leluasa melakukan pemurtadan dan penyesatan terhadap umat Islam. Begitu juga umat Islam tidak akan berani main-main dengan agamanya.

Berikut ini beberapa bukti bahwa pemerintahan Islam mempunyai peran penting di dalam menghentikan gelombang pemurtadan:
Para Khulafa’ Rasyidin menegakkan memerangi orang-orang yang murtad dan menghukumi mereka dengan hukuman mati, seperti yang dilakukan oleh Abu Bakar Siddiq terhadap Musailamah al-Kadzab dan para pengikutnya.
Begitu juga yang dilakukan oleh Khalifah Al Mahdi, sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Katsir pada peristiwa yang terjadi pada tahun 167 H: “Khalifah Mahdi memburu orang-orang yang murtad kemana saja mereka bersembunyi, mereka yang tertangkap dibawa kehadiran-nya dan dibunuh di depannya.” (al Bidayah wa an Nihayah 10/149)

Begitu juga pada tahun 726 H, Nashir bin as Syaraf Abu Al Fadhl al Haitsami dihukum mati karena menghina ayat-ayat Allah dan bergaul dengan para zindiq. Padahal dia orang yang menghafal kitab At Tanbih, dan bacaan Al Qur’annya sangat bagus (al Bidayah wa an Nihayah: 14/122)

Berkata Al Qadhi Iyadh: “Para ulama Malikiyah yang berada di Baghdad pada zaman khalifah al Muqtadir telah sepakat untuk menjatuhkan hukuman mati kepada al Halaj, kemudian menyalibnya, hal itu karena dia menganggap dirinya Allah dan menyakini Aqidah al Hulul, serta menyatakan bahwa dirinya (padahal al Halaj secara lahir, dia menjalankan syare’at. Al Halaj ini taubatnya tidak diterima (di dunia)” (Asy Syifa’: 2/1091)

Harap dicatat bahwa orang-orang yang dibunuh adalah orang-orang yang berhak, karena mereka telah memusuhi Allah, memusuhi Islam, memusuhi Rasulullah dan memusuhi kebenaran “agama langit”. Mereka juga berbuat kekejian, maka jika tidak dihentikan kekejian itu akan menjalar bagai penyakit yang menggerogoti tubuh manusia sehingga jika tidak diatasi maka manusia tersebut akan binasa.

(4) Ghozwul Fikri
Munculnya pemikiran-pemikiran sesat seperti liberalisme, pluralisme dan sekulerisme telah mendorong terjadi gelombang kemurtadan di kalangan kaum Muslimin, karena paham-paham tersebut mengajarkan bahwa semua agama sama, dan semua orang bebas melakukan perbuatan apapun juga, tanpa takut dosa. Wallahu a’lam. (Diambil dari tulisan seorang Doktor bidang fikih, Universitas Al-Azhar, Mesir)

Related post
Berbagai Trik Kristenisasi di Indonesia

Iklan