MENJAWAB SITUS isadanislam.com edisi “Islam, Kristen Bertanya “Benarkah Isa Al-Masih Wafat?”

menjawab situs
isadanislam logo

Materi selengkapnya, silahkan

Focus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca

Staf IDI berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut:
1. Berdasarkan fakta-fakta di atas, bagaimana pandangan saudara tentang kematian Isa Al-Masih?
2. Manusia adalah orang berdosa. Tanpa Juruselamat dapatkah manusia melepaskan diri dari dosa? Berikan alasan saudara!
3. Menurut saudara, apakah tujuan Allah mengutus Isa Al-Masih, Kalimatullah, ke dunia?

JAWABAN

Bismillah…

“No bodies perfect”, tepatnya “Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga”

Staf IDI telah mengawali tulisannya dengan sebuah kesalahan!

PERHATIKAN SCREENSHOT BERIKUT!

Padahal isi Qs 19:71 yang benar adalah seperti ini:
“Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan”.

Sengaja saya buat screenshotnya sebagai bukti, mungkin besok atau lusa mereka akan mengeditnya.

Sebenarnya ayat yang mereka maksud adalah QS. 19:33.

Entah apa sebabnya kesalahan ini terjadi, hanya mereka dan Allah saja yang tahu.

Mungkin hikmah yang dapat kita ambil adalah bahwa kita harus teliti dalam mengerjakan sesuatu.

Baik, mari kita mulai mengupas inti-inti persoalan.

Ayat yang mereka “comot” yaitu QS. 19:33 berbunyi:
“Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”.

Dengan dasar ayat ini mereka berapologi untuk memperkuat iman Kristen.

Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, kaidahnya adalah begini: “Umat Kristen yang berapologi memakai ayat Quran adalah “kebodohan, tetapi umat Islam yang memakai dasar Alkitab adalah penelitian”.

Dear umat Kristen, “Nabinya ditolak, tapi kitabnya kok dipungut?!”. Aneh sekali perbuatan kalian, benar-benar tidak masuk akal!

Dengan ayat diatas, mereka mempersamakan sosok baginda Nabi ’Isa Alaihi salam dengan sosok Yesus Kristus. Mungkin mereka menganggap Rasul Allah ’Isa sebagai “Tuhan” sesembahan mereka.

Padahal jika mereka (staf IDI) mau objektif, pada ayat sebelumnya telah tersedia jawabannya dengan sangat jelas.

Allah berfirman dalam QS. 19:30, yang berbunyi:
“Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi,”

Jadi jelas bahwa ’Isa itu adalah:
– Seorang hamba Allah (muslim).
– Seorang Nabi.
BUKAN TUHAN!

Pada bagian berikutnya mereka memaparkan bukti-bukti kematian Yesus dari segi medis, sejarah, dsb.

Sebenarnya apa yang hendak mereka sampaikan?? Yesus wafat adalah keniscayaan karena Yesus manusia pasti mengalami kematian.

“Qullu nafsin dza ikhatul mauut”

“Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati” (QS. 3:185).

Sekarang kita akan mulai menjawab point-poin yang mereka tanyakan, kita akan menjawab sesuai urutan.

1. Seperti yang telah ditulis diatas, bahwa kematian Yesus itu adalah sebuah keniscayaan. Karena beliau itu manusia dan semua manusia pasti mengalami kematian sesuai dengan ayat yang telah disebutkan yaitu QS. 3:185.

2. Dapatkah kita melepaskan diri dari dosa tanpa juruselamat (Yesus)?

Jika umat Kristen menganggap Yesus sebagai juruselamat dalam konteks Rasul, maka itu benar! Karena semua Rasul Allah adalah juru selamat bagi umatnya. Dalam konteks ini seorang Rasul adalah pemberi peringatan, pengajar, pemberi petunjuk, (dsb) kepada jalan yang lurus yaitu jalannya orang-orang yang beriman sehingga umatnya terselamatkan dari jalan kemusyrikan seperti yang terdapat dalam ayat-ayat berikut ini.

· QS. 9:33, “Dialah yang Telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan diin yang haq untuk dimenangkanNya atas segala diin yang lain, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.”

· QS. 27:35, “Dan Sesungguhnya Aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu.”

· QS. 33:45-46, “Hai nabi, Sesungguhnya kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gemgira dan pemberi peringatan, Dan untuk jadi penyeru kepada diin Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi.”

· QS. 21:107, “Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”

· QS. 61:9, “Dia-lah yang mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan Diin yang Haq agar dia memenangkannya di atas segala diin-diin yang lain meskipun orang musyrik membenci.”

· QS. 42:13, “Dia Telah mensyari’atkan bagi kamu tentang apa yang Telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang Telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang Telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah Ad-Diin dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. amat berat bagi orang-orang musyrik apa yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada Ad-Diin itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (diin)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).”

· QS. 3:31-32, “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.”

Bahkan Alkitab sendiri telah menyatakan bahwa Yesus Kristus hanyalah seorang manusia utusan Tuhan.

· Yohanes 7:28-29
(7:28) Waktu Yesus mengajar di Bait Allah, Ia berseru: “Memang Aku kamu kenal dan kamu tahu dari mana asal-Ku; namun Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, tetapi Aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal. (7:29) Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku.

· Matius 15:24, Jawab Yesus: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.”

Nah, begitulah pemahaman yang benar, yaitu memahami Yesus (’Isa) Almasih sebagai Rasul utusan Allah, bukan sebagai Allah. Dzat Allah Mahabesar sementara manusia hanya “seonggok daging” yang lemah.

Lalu siapakah sosok yang dapat mengampuni sekaligus menghapuskan dosa manusia??

Yesus tidak kuasa menghakimi siapapun, termasuk mengampuni dosa manusia.

· Yohanes 5:30, “Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku”.

Tetapi Allah, Tuhan bagi manusia sangat mampu untuk mengampuni dan menghapus dosa-dosa kita.

· QS. Az Zumar:53, “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

· QS. Huud:61,“…karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).”

· QS. Al Muzzammil:20, “…Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

· QS. An Nuur:62, ”…Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

· QS. An Nisaa’:96, (yaitu) beberapa derajat dari pada-Nya, ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

· QS. 57:21, Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. Sebesar apapun dosa umat manusia.

· Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Allah ta’ala telah berfirman :“Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi no. 3540]

Kesimpulan,
– Yesus (’Isa) Al-masih bukanlah Tuhan.
– Yesus (’Isa) Al-masih hanya seorang manusia utusan Allah. Ia lemah tidak mampu menghakimi ataupun mengampuni dosa-dosa manusia.
– Hanya Allah saja Tuhan yang dapat mengampuni dan menghapuskan dosa-dosa umat manusia.

3. Soal “kalimatullah”
Berikut adalah Surah An-Nissa’: 171 berserta dengan maksudnya:
Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih ‘Isa putra Maryam itu adalah utusan-Nya dan (yang terjadi dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh daripada-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya dan jangan kamu mengatakan; “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapanmu itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah untuk menjadi Pemelihara.

Cukup jelas bukan?! Disana tidak ada satupun perkataan yang menyatakan bahwa roh adalah Tuhan, tidak ada pula pernyataan yang menyatakan bahwa ’Isa Al-masih adalah roh Tuhan ataupun Tuhan.

Masih kurang jelaskah? Baik!

Fokus perbincangan kita untuk ayat ini adalah perkataan “Kalimatullah”.

Mengapa ‘Isa Al-Masih dipanggil “Kalimatullah”?

Maksudnya adalah jelas, jika kita memegang kepada konsep Al-Qur’an mentafsirkan antara satu sama lain. Dengan membandingkan ayat di atas dengan ayat yang memperjelaskan isu diatas, kita dapat membuat kesimpulan bahwa ‘Isa dipanggil “Kalimatullah” disebabkan oleh proses kejadiannya yang diciptakan dengan kalimat “kun” (jadilah) tanpa ber-bapak. Proses kejadian ‘Isa adalah sama seperti kejadian Adam yang tiada ber-bapak atau ber-ibu.

Firman Allah:
Sesungguhnya misal (penciptaan) ‘Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (KUN) (seorang manusia), maka jadilah dia. (Surah Ali Imran:59)

Maka disini jelaslah kepada kita bahwa Al-Qur’an tidak pernah menganggap ‘Isa Al-Masih itu adalah Allah, malah memandangnya sebagai seorang manusia biasa, sama seperti Adam a.s.

Jika staf IDI masih degil dengan mengatakan bahwa Al-Qur’an membenarkan doktrin Kristen bahwa ‘Isa adalah “Tuhan” (Allah), maka dengan menggunakan metodologi mereka sendiri, kita perlu menambah seorang lagi ke dalam doktrin “Trinitas” mengikut ayat diatas, yaitu Nabi Adam a.s., karena beliau juga terjadi dengan “kalimat Allah”, yaitu “kun” (jadilah)!

Disini juga kita dapat memetik Tafsir Al-Azhar, Juzu’ 4-5-6, karangan Prof. Dr. Hamka, yang membicarakan tentang ayat Surah An-Nissa’: 171 diatas:
Lalu lanjutan ayat: “Sesungguhnya Al Masih Isa anak Maryam itu lain tidak, hanyalah Rasulullah.” Bukanlah dia itu Allah yang menjelma menjadi anak, dan bukan pula dia anak dari Allah. Tugasnya hanya satu, yaitu menjadi Rasulullah, Utusan atau Pesuruh Allah. Maka kalau pendirian yang telah diputuskan itu, yaitu mnganggap dia penjelmaan Allah atau anak Allah, nyatalah bahwa sikap ini sudah melebih-lebihi, keterlaluan atau melampau-lampaui. “Dan kalimatNya yang Dia letakkan kepada Maryam dan Roh yang datang daripada-Nya.”

Kalimat Allah artinya perintah yang ditentukan Allah. Itulah kalimat “Kun”, artinya “Ada-lah engkau!” Setelah kalimat itu diucapkan Tuhan, maka datanglah lanjutan “Fa Yakun”, artinya: “Maka ada-lah!” Kepada langit Tuhan bersabda Kun, maka langitpun ada.
Kepada sesuatu kalimat Tuhan itu berlaku maka semuanya ada. Atas kalimat Tuhan itu pula Dia berfirman: “Kun Ya Isa! Ada-lah engkau, wahai Isa!” Maka ada-lah Isa, yang tadinya belum ada. Isa belum ada sebelum Tuhan kehendaki. Caranya ialah menurut kehendak Tuhan itu sendiri, kalimat Kun di hadapan Tuhan kepada diri Maryam: “Mengandunglah engkau hai Maryam!” Lalu Maryam anak dara suci itu bertanya kepada Tuhan: Bagaimana hamba akan mengandung padahal hamba belum disentuh laki-laki? Lalu Tuhan menjawab: Yang begitu bagi-Ku adalah perkara mudah (QS. Maryam:21).

Apalah sukarnya bagi Allah yang dengan kalimat Kun dapat menciptakan cakrawala, menciptakan matahari dan bulan dan bintang. (m.s. 101)

Wallahu’alam bishowab.

Penutup
Mari kita sentuh mereka dengan satu pertanyaan.

Wahai umat Kristen, jika Yesus Kristus kalian klaim sebagai Ruhullah dengan dasar ayat Qur’an, coba kalian tunjukkan ayat mana di dalam Al-Qur’an yang menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah “anak Allah”???

Wabillahi taufik wal hidayah, wassalam.

Read more
· Isa – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
· KALIMATULLAH DAN RUHULLAH UNTUK NABI ISA AL MASIH AS.
· Menjawab Tuduhan “Ruh Allah” | Answering Misionaris
· MENGENAL MAKNA – TUGAS RASUL DAN TUJANNYA DIUTUS

Iklan